Jumat, 30 September 2011

Sejarah Peradaban Islam di Aceh

Filled under:



 

Pendahuluan

Dari dulu sampai sekarang  Aceh tetap saja menarik  untuk menjadi suatu  bahasan dan penelitian baik yang dilakukan oleh lembaga-lembaga luar maupun dalam negeri, para sejarawan, akademisi, dan mereka yan menaruh minat dibidang sejarah yang diwujudkan dalam suatu karya ilmiah. Hal ini tidak terlepas  dari kekayaan  budaya yang dimiliki Aceh, perjuangan dalam mermpertahankan  kedaulatan wilayah dengan berdirinya kerajaan-kerajan di Aceh yang kemudian dapat disatukan menjadi sebuah kerajaan besar yang disegani, menguasai  wilayah-wilayah  yang sangat produktif   dan jalur perdagangan di pantai barat dan sebagian pantai timur pulau Sumatera. Kekuatan militer dan hubungan luar negeri serta dinamika - sikap heroisme yang dimiliki orang-orang Aceh yang tetap mengadakan perlawanan terhadap tekanan-tekanan pihak luar. 

Dalam konteks budaya dapat kita cermati gerakan-gerakan tarian Aceh. Penari wanita dan pria semua memiliki gerakan-gerakan yang tegas tapi tidak kaku.  Gerakan kepala, bahu,  ayunan tangan, langkah-langkah-langkah kaki, iringan musik dan lirik terlihat begitu nyata tanpa alunan yang lembut dan mendayu-dayu seperti tarian Jawa atau Bali. Penyertaan Aceh dalam sejarah meskipun telah dimulai pada priode “mesolitikum”   namun yang  paling  menonjol ialah sesudah masuknya Islam di Aceh dan berdirinya Kerajaan Islam yang pertama.

Peradaban dan Kebudayaan

Untuk menempatkan arti yang tepat   maksud dari kedua  kata tersebut yang kadang-kadang sangat sulit dibedakan, baiklah kita coba memahami keterangan Dr. Badri Yatim, M.A. dalam bukunya yang berjudul  “Sejarah Peradaban Islam”. (Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat dalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi  kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan  peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak direfleksikan  dalam seni, sastra, religi (agama) dan moral,  maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi).

Selanjutnya Prof. Ali Hasjmi  dalam bukunya “Kebudayaan Aceh  dalam Sejarah” memberikan definisi tentang kebudayaan sebagai berikut, “Kebudayaan yang menjelma dari serba kebutuhan manusia ,adalah manifestasi akal budi dan hatinurani manusia, sehingga dengan demikian kebudayaan berarti : a. penjelmaan akal,  b. penjelmaan rasa, penjelmaan cita.
Keterangan diatas kiranya sudah cukup untuk menyentuh arah dari tulisan ini yang terfokus pada Kerajaan Samudra Pasai di Aceh. Prof. Dr. Musrifah Susanto dalam bukunya “Sejarah peradaban Islam di Indonesia”  dalam kata pendahuluannya langsung saja membahas tentang materinya tanpa harus terikat  dengan istilah-istilah tersebut  diatas.

Masuknya   Islam  ke Indonesia

Masuknya Islam ke  Indonesia telah membawa perubahan yang sangat besar dalam peradaban  dan kebudayaan yang tercatat dalam sejarah. Dibandingkan dengan agama lain, Islam lebih banyak memberikan nilai-nilai tentang kehidupan maka dengan sangat mudah dapat diterima karena tidak ada unsur-unsur  paksaan.  Islam  membangun rasa intelektualitas pemeluknya sesuai dengan wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammas SAW yaitu “Iqrak, bismi rabbikallazi chalaq”.  Ini menjadi suatu kerangka untuk  membangun sebuah peradaban berdasarkan keimanan yang kukuh.

Dalam Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang dilangsungkan di Medan pada 17 -20 Maret 1963, telah diambil  kesimpulan bahwa Islam masuk untuk pertama kalinya ke Indonesia pada abad ke 1  Hijriyah dan langsung dari Arab. Daerah yang pertama didatangi Islam ialah pesisir Sumatera dan pertama berada di Aceh.  Ada pendapat-pendapat  yang menyatakan  bahwa Islam telah masuk lebih awal ke Barus, atau ke Aru (Deli)  karena di tepi pantai  dan merupakan pelabuhan  niaga  yang disinggahi kapal sauidagar Arab dan Parsi.

Kerajaaaan Samudra Pasai sebagai pusat peradaban

Keberadaan Kerajaan Samudra Pasai (abad 13 M)  sebagai kerajaan Islam  pertama telah menjadi suatu pusat peradaban di Nusantara dalam langkah-langkah pengembangan agama Islam  pada masa pemerintahan Malikus Saleh dan penerusnya yang  telah membuahkan hasil gemilang dengan berdirinya beberapa kerajaan Islam di pulau Jawa. Samudra Pasai  tidak saja menjadi pusat niaga yang disinggahi oleh para pedagang yang datang dari India, Parsi, Arab  dan Cina tetapi  juga menjadi peradaban dan pusat pendidikan Islam.  

Setelah kerajaan Islam ini berdiri, perkembangan masyarakat muslim di Malaka makin lama makin meluas dan pada awal abad ke-15 M, di daerah ini lahir kerajaan Islam, yang merupakan kerajaan Islam kedua  di Asia Tenggara. Ibnu Batutah seorang pengembara asal Maroko pada tahun 1345 mengunjungi Pasai  dalam perjalanannya   dari  Delhi ke Cina pada masa pemerintahan Sulthan Malik Al-Zahir.  Ibnu  Batutah menyatakan bahwa Islam sudah hampir satu abad lamanya disiarkan disana.  Ia meriwayatkan kesalehan, kerendahan hati, semangat keagamaan rajanya yang seperti rakyatnya,mengikuti mazhab Syafi’i . Berdasarkan beritanya pula. Kerajaan Samudra Pasai ketika itu merupakan pusat studi agama Islam dan tempat berkumpul para ulama-ulama dari berbagai negeri Islam untuk mendiskusikan berbagai masalah keagamaan dan keduniaan.
                    
Sebelumnya  tahun 1292 pada masa pemerintahan Sulthan Malikus Saleh telah singgah pula di Samudra Pasai seorang pengembara bangsa Venecia yang banyak menghabiskan waktunya di Mongolia dan Cina. Sementara Cheng Ho penjelajah bangsa Cina yang beragama Islam juga pernah singgah di Kerajaan Samudra Pasai (antara tahun 1413 – 1415 ?) dia menyerahkan sebuat lonceng besar  yang kemudian dinamakan ‘Cakra Donya” kepada Sulthan Aceh.   Demikian ketenaran Samudra Pasei masa itu yang menarik minat para penjelajah dunia  untuk  menyinggahinya.

Gambaran mengenai kemajuan Pasai oleh Dr. Badri Yatim, MA disebutkan  bahwa dalam kehidupan perekonomiannya, kerajaan maritim ini tidak mempunyai  basis agrararis. Basis perekenomiannya  adalah perdagangan dan pelayaran. Pengawasan terhadap perdagangan  dan pelayaran itu merupakan sendi-sendi  kekuasaan  yang memungkinkan kerajaan memperoleh penghasilan dalam pajak  yang besar. Tome Pires menceritakan, di Pasai ada mata uang dirham. Dikatakannya bahwa setiap kapal yang membawa barang-barang dari barat dikenakan pajak 6 %.  Samudra Pasai pada waktu itu ditinjau dari segi geografis dan sosial ekonomi,  memang merupakan  suatu daerah yang penting sebagai penghubung antara pusat-pusat perdagangan yang sangat penting. Adanya mata uang dirham di Samudra Pasai pernah diteliti oleh H.J. Cowan untuk menunjukkan bukti-bukti sejarah raja-raja Pasai. Mata uang tersebut menggunakan nama –nama Sulthan yang memerintah kerajaan

Kemasyhuran Samudra Pasai yang mengandalkan perniagaan maritim telah mengundang perhatian pihak lain untuk menguasai Samudra Pasai dan menjadikan daerah taklukan mereka.  Dalam masa pemerintahan Sulthan Zainal Zainul Abidin Malikuz Zahir kerajaan Mojopahit menyerang Pasai  dibawah pimpinan Patih Nala, dengan bekerja sama dengan kerjaan Siam, dimana dengan tipu daya yang licik utusan Raja Siam menculik Sulthan Zainul  Abidin. Karena tidak tahan peperangan yang dilakukan   rakyat/tentara, akhirnya bala tentara Majapahit terpaksa meninggalkan Pasai, dengan membawa sejumlah tawanan,  tawanan mana kemudian menjadi pembawa Islam pertama ke pulau Jawa.  

Apa yang telah dicapai oleh Kerajaan Samudra Pasai  dimasa kejayaannya merupakan manifestasi dari sebuah peradaban yang diserap ketika Islam telah menjadi agama yang  yang diyakini oleh orang-orang Aceh. Kemajuan Samudra Pasei disamping pemerintahan yang kuat juga memilik lembaga-lembaga yang teratur,  ekonomi yang stabil,  ilmu pengetahuan yang berkembang ditandai dengan banyaknya ulama dan penuntut  ilmu yang datang mengajar dan belajar di Kerajaan Samudra Pasai.  Setiap permasalahan agama yang timbul  di kerajaan-kerajan Islam di Jawa dan Malaka kerap kali meminta fatwa dari ulama-ulama  Pasai.

Setelah jatuhnya Pasai ke tangan Portugis pada tahun 1521 maka pusat peradaban pun berpindah ke kerajaan Aceh Darussalam dibawah pemerintahan sulthan-sulthan yang kuat dimasa itu.  Sementara ada pula putra-putra Pasai yang meninggalkan tanah kelahirannya pergi merantau ke Jawa salah satu diantaranya adalah Fatahillah atau dengan nama lain Syarif Hidayatullah yang menjadi Panglima Perang Kerajaan Islam  Demak. Setelah tiga tahun dikuasai Portugis,  Pasai  dapat dibebaskan dari cengkraman Portugis kemudian disatukan dalam pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam.  

Sulthan-sulthan Kerajaan Samudra Pasai :
KERAJAAN SAMUDRA/PASAI
433- 831 H  - 1042 -1427 M
Tahun Kekuasaan

Nama  Sulthan
Hijriyah
Miladiyah
433 - 470
1042 - 1078
Maharaja Mahmud Syah  (Meurah Giri)
470 - 527
1078 - 1133
Maharaja Mansyur Syah
527 - 550
1133 - 1155
Maharaja Khiyassyuddin Syah
550 - 607
1155 - 1210
Maharaja Nurdin Sulthan      Al-Kamil
659 – 688
1261 - 1289
Sulthan Malikus Salih
688 – 725
1289 - 1326
Sulthan Muhammad Malikud Dhahir
725 – 750
1326 - 1350
Sulthan Ahmad Malikud Dhahir
750 – 796
1350 - 1394
Sulthan Zaulabidin Malikud Dhahir
796 – 801

Maharaja Nagur Rabath Abdul kadir Syah
801 – 831
1400 - 1427
Nihrasiyah Rawangsa Khadiju

1513
Sulthan Abdullah
Ali Hasjmi – Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah                                      
Penutup

Apa yang telah dicapai oleh kerajaan Samudra Pasai adalah gambaran sebuah peradaban yang penuh nilai-nilai sehingga sampai sa’at ini tidak henti-hentinya orang datang ke lokasi situs sejarah  yang terletak di Kecamatan Samudra, Aceh Utara.  Pada  tanggal 28 Januari yang lalu serombongan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Palembang melakukan studi tour ke Aceh melihat situs-situs sejarah yang ada di Aceh. Penulis sempat berjumpa dengan rombongan itu di Mesjid Agung Saree ketika hendak shalat subuh.  Mereka mengagumi kegemilangan Aceh masa lalu yang sangat kuat dengan armada lautnya. Kerajaan Islam Peureulak pernah di serang oleh kerajaan Sriwijaya pada tahun 986 M dan mendudukinya selama beberapa tahun, namun tidak meninggalkan pengaruh apa-apa dalam peradaban.  Aceh tetap saja Aceh yang sangat lekat dengan norma-norma agama Islam.

Eksistensi Samudra Pasai selama 482 tahun dan Kerajaan Darussalam 400 tahun tentulah sangat kental dengan  nilai-nilai sejarah dan ini telah terbukti dengan karya-karya yang disadurkan oleh penulis asing dan penulis kita sendiri seperti H. Muhammad Said,  H. M. Zainuddin, Ali Hasjmi  dan lain-lain. 

Gambaran diatas tentang peradaban merupakan sebuah cuplikan yang dapat penulis sajikan dari sekian banyak kekayaan dan nilai-nilai  yang dimiliki oleh Aceh, tentu saja belum menyintuh kepada permasalahan  yang lebih dalam,  disana-sini mungkin terdapat kekurangan yang memerlukan penyempurnaan  lebih lanjut.  Sebagai bangsa Aceh yang memilik sejarah   besar dan sikap hidup yang dinamis dan heroik  hendaknya  dapat menatap  sejenak akan masa lalu untuk mengambil sebuah sikap dan tekad untuk membangun Aceh yang baru,  jujur, ulet dan berkualitas.  Sejarah adalah sebuah cermin pengkoreksian.

di sampaikan pada Dikpoldem
Saree School, 12 Februari 2011

*peminat sejarah aceh, tinggal di IDI
 

Bahan bacaan :
1)  Dr. Badri Yatim, M.A. – Sejarah Peradaban Islam,  PT. RajaGrafindo Persada- Jakarta
2)  Ali Hasjmi – Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah, Penerbit Beuna 1983 - Jakarta
3)  H. M. Said – Aceh Sepanjang Abad, Waspada 1961 –[  Medan)
4). H.M. Zainuddin – Tarich Aceh dan Nusantara, Pustaka Iskandar 1961 – Medan
5). Prof. Dr. Mustrufah Sunanto -  Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT. RajaGrafindo Persada- Jakarta
6). Prof. Dr. Hamka – Sejarah Umat Islam, Pustaka Nasional Pte.Ltd, 2005 Cet.Kelima, Singapore
7). Paul Michael Munof – Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia, Mitra Abadi 2009, Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar