Slider 1 miniSlider 2 mini

Senin, 27 April 2015

salem rakan

Filled under:

tes tes
tes
tes

Posted By wahfiyudin acehSenin, April 27, 2015

Dan aku mulai memahami ini

Filled under:




Aku adalah badai yang membawa seribu jarum.
engkau tegak berdiri, dengan tangan terlentang menantang aku.
sadarkah engkau dengan kain sutra itu, tak akan manpu menaklukkan aku.
aku adalah magma yang selalu menunggu, tubuhku terbelenggu,
sedang rantai waktuku hanya setipis kulitmu.
tahukah engkau, lembut senyum mu tak akan manpu mendinginkan aku. 
aku adalah matahari,membakar apa saja.
kau menjelma ikarus.
dengan sayap bulu elang bertambatkan lilin.
terbang menuju aku.
sadarkah engkau, mendekati aku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu..........
kau diam.
sejenak kau berbisik:
aku adalah ikarus berbaju sutra yang tersenyum pada engkau pada angkuh dan kesendirianmu.
aku adalah waktu yang membebaskanmu.
karena aku mencintaimu....

indrapuri 30 okt 14

Posted By arma arvihalisSenin, April 27, 2015

Jumat, 16 Januari 2015

Produk Pemutih dan Saya

Filled under:



Beberapa hari yang lalu saya terlibat percakapan absurd dengan kakak-kakak berkulit putih dan berwajah manis penjual produk pemutih wajah. Saya baru menghabiskan setengah cangkir kopi saya saat itu.
“Bang, ini produk baru… biar kulitnya putih, atau bisa jadi hadiah buat pacarnya..”“Get kak, Teurimong genaseh, pajan pajan teuma beuh…”
Percakapan pendek dan simple itu saya golongkan absurd. Karena saya adalah seorang lelaki, tidak ada kewajiban sosial bagi saya untuk berkulit putih. Dan hadiah buat pacar? Mengapa pula saya harus membuat pacar saya berkulit putih? 

Saya sekilas melirik ke merek produk tersebut, tidak begitu familiar dan saya menyimpulkan bahwa ini produk baru yang sedang promo atau produk MLM yang di jual secara manual tanpa melibatkan embel embel bonus dan ranking (atau memang MLM entahlah). Keyakinan saya bertambah ketika saya mengingat ngingat tidak pernah melihat merek ini di iklan televisi maupun di surat kabar.

Saya mengaduk kopi saya, warnanya hitam pekat. Menyeruputnya pelan.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada produk yang di tawarkan kepada saya, saya tiba tiba teringat kepada kepada produk pemutih wajah lain yang iklannya ada di media. Para produsen produk kecantikan khususnya pemutih wajah, semakin lama semakin licik. Cara mereka beriklan pun semakin cerdik. Putihnya kulit di hubung-hubungkan dengan peluang mendapatkan cinta sejati, dengan putihnya hati nurani, dengan kebahagiaan, sampai dengan perebutan jodoh dalam 7 hari !

Dan apa yang terjadi dengan yang kulitnya kurang putih? Alamak… mereka di gambarkan murung, tidak mendapatkan perhatian yang cukup, dan selalu di abaikan sang pujaan hati alias tidak bahagia, sedangkan mereka yang berhasil putih tersenyum sumringah, mendapatkan perhatian, di puji sang pujaan atau singkatnya lebih bahagia.

Membayangkan iklan iklan tersebut, saya mengorek ngorek hidung dan ingatan saya, pernahkan saya mengalami moment dimana saya melihat seseorang ditinggalkan karena kurang putih? Atau pernahkan saya sendiri misalnya, menentukan pasangan saya berdasarkan kadar kecerahan kulit mereka?. Jujur, wanita dengan kulit putih memang lebih menarik, tapi untuk menjadi pasangan hidup bagi saya adalah kenyamana, kecocokan dan kepaduan hati dan jiwa, sesuatu yang tidak bisa di visualkan maupun di verbalkan.

Dan entah dari mana saya tau, bahwa para bintang di iklan pemutih itu memang sudah dari lahir berkulit putih-cerah, di tambah efek make-up dan serba serbi editing-lighting yang membuat siapa saja bisa terlihat seperti apa saja sesuai kemauan sang produser. Dan entah dari mana saya tau bahwa jikapun ada wanita yang membaca tulisan ini mereka akan tetap berlomba lomba untuk terus mengikuti standar cantik masyarakat, di luar batas dari logika mereka.

mereka akan berkata saya munafik. Bahwa perempuan berkulit lebih putih akan lebih mudah mendapatkan pasangan, saya akan menyerapahi mereka jika bahkan sudah punya pasangan, mereka tidak akan henti hentinya berdandan, ke salon dan memutihkan kulit. Pasangan sudah di dapat kok repot? Buat siapa?. Mungkinkah memang sudah kodratnya ?

Mungkin saya terlampau naif, bicara kodrat sudah melibatkan hukum ilmiah memetika dan genetika wanita yang wewenang ilmiahnya tidak saya punya, saya tidak paham sama sekali tentang memetika dan genetika. Bahkan di SMA saya ambil jurusan IPS.

Sebagai mahasiswa Sosiologi, saya hanya tau masyarakat adalah system mutlak yang menghalalkan segala untuk mempertahankan eksistensinya. Eksistensi yang merupakan main quest manusia adalah : Kelangsungan Hidup dan Replikasi diri. Mungkin saja, bagi kaum hawa quest tersebut diterjemahkan sebagai kompetisi keamanan dan kepastian bagi dirinya dan keturunannya.. atau di singkat : menjadi yang terkuat agar berpeluang besar meneruskan keturunan, hmmm.. 

Tafsiran ‘kuat’ tentu saja berkembang dari masa ke masa. Jika ‘Kuat’ di zaman batu di artikan cerdik dan tangkas serta mampu menghadapi ancaman predator dan ‘Cantik’ diartikan subur dan mampu beranak banyak, maka ‘Kuat’ di zaman sekarang adalah kepemilikan asset dan jaminan finansial, ‘Cantik’ adalah berdada-pinggul besar, berkulit putih, berdandan seksi, cerdas, dan seterusnya. Inti nya tetaplah sama : Keamanan dan Keberlangsungan Hidup.

Ah, barangkali ini lah mengapa manusia menjadi makhluk paradoks. Manusia adalah konflik yang berjalan di atas dua kaki, dari sejak bangun tidur hingga tidur kembali..



-

Posted By zia muntazarJumat, Januari 16, 2015

Ketika Saya Ditanya Kapan Selesai Kuliah

Filled under:

“Bang, Kuphi saboh..”
“Oh droen lagoe, kiban? Kaleuh kuliah ?”
“….”



Dalam kehidupan individu, saya tidak luput dari himpitan harapan lingkungan sekitar saya, seringkali terasa sangat berat untuk bernafas bebas dari expektasi orang lain, apakah dalam bentuk norma, nilai, aturan maupun kondisi sosial yang mengikat saya. Percakapan di atas adalah salah satu serpihan kecil bagaimana lingkungan mempengaruhi kemerdekaan saya.

Mungkin terlalu berlebihan menganggap sapaan basa-basi itu sebagai 'himpitan' dan ancaman bagi kemerdekaan saya, bahkan secara bijak bisa di nilai sebagai motivasi dan simpati. pelaku basa-basi itu sekalipun tidak pernah tau dimana saya kuliah dan apa yang saya lakukan dengan kuliah saya. namun demikianlah saudaraku, masyarakat dan lingkungan sudah terintegrasi interaksi-simbolis-mekanis yang semakin canggih dengan nilai individu, sehingga beberapa orang mungkin akan menolak untuk ber'konflik' dengan hal tersebut dan memilih untuk diam.

Secara sadar saya telah terpenjara, benar benar sadar sampai saya sudah menganggap penjara ini sebagai rumah. Dan kebebasan hanyalah ilusi dan fatamorgana di padang pasir ketidakbecusan saya melawan beban tersebut. Ditengah keputus-asaan, saya mencoba akan menghibur diri dengan menghaluskan istilah terpenjara sebagai “kebebasan yang bertanggung jawab”. Agar saya tidak lagi mengenang kebodohan dan kelemahan sejati saya di hadapan berjuta expektasi dan ekspresi.

Ada sebagian orang berpendapat tentang seberapa penting nilai kemerdekaan pribadi,, dan saya hanya membayangkan pertanyaan ini seperti menebak nebak mana yang lebih dulu, telur atau ayam. Di satu sisi saya tau bahwa kemerdekaan pribadi adalah hal yang abstrak dan ilusif, hampir utopis. Namun di sisi lain saya menyadari kemerdekaan pribadi adalah kebebasan berexpresi bebas dari bayang bayang penjara sosial yang mungkin akan membawa pribadi saya ke dimensi baru yang lebih baik. Pada pendewasaan yang lebih matang.


Namun sejatinya apakah telur dulu atau ayam dulu? Ketidakpastian dilematis ini membawa saya pada kenyataan bahwa ketidakmampuan hidup secara total, Pikiran, sikap dan pendapat akhirnya akan terparut oleh kelayakan sosial. 

Posted By zia muntazarJumat, Januari 16, 2015