Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juni 2013

Matahari diapit dua gunung dan jalan menuju gunung menurut Sosiologi

Salam sahabat Blogger, dan sahabat sosiologi

Waktu saya masih pitik dan dalam masa paling imut dulu di TK sampai SD, saya pernah dapat pelajaran ngegambar sama guru saya di TK. 
" Sekarang kita gambar segitiga ya..." teriak bu guru , saya pun dengan bloonnya ngikutin... . terus kita gambar mataharinya, matahari dimana anak anak ? tanya si guru TK, kami pun koor jawab. . . " di langit buukk..." (dimana lagi emang)
demikian tutorial menggambar saya di TK . hasil karya saya sama temen temen di pampang di dinding,. dan bisa di tebak, hasilnya samaaaa semua. yang ngebedain warna gunung sama warna sawahnya doank. 

Saya yakin sobat sobat juga pernah ngalamin hal semacam itu. but, its relevant. setelah sekian tahun berjalan, kita sudah tidak lagi mempertanyakan ada apa dengan dua gunung runcing yang menjepit matahari serta sawah di seberang jalan dengan rumah absurd di sisi lain.

Kreatifitas di negeri ini. mengkhawatirkan.



beginilah kira kira...


Walaupun nyaris kadaluarsa, Sebagai mahasiswa di bidang sosiologi saya mencoba untuk membedah fenomena ini semampu saya. dalam hal ini saya akan menggunkan pisau bedah terupdate dari Tallcot Parsons. yang sebelumnya di tempa oleh auguste comte dan di asah emile durkheim. yupss. Struktural Fungsional. teori yang paling seram dalam sosiologi (menurut saya). dan teori Interaksionalisme Simbolik.

Teori Struktural Fungsional., di kembangkan dengan mengacu pada analogi organismik tubuh manusia. yang saling mendukung dan membutuhkan organ organ lainnya untuk bekerja. bagian bagian ini punya tugas masing masing untuk membuat sistem menjadi seimbang. sehingga jika ada yang absen jalanin tugas, akan merusak keseimbangan sistem. dalam istilah sosiologi kita sering sebut dengan chaos.

menurut Parson, ada 4 komponen penting dalam teori SF ini. A-G-I-L , Adapt=sistem sosial selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang di butuhkan,
Goal Attainment=Tujuan Bersama,
Intergration=Sistem sosial cenderung bertahan pada status equilibrium dan seimbang, dan
Latency= sifat mempertahankan interaksi  yang relatif tetap, dan penyimpangan di respon dengan memperbaharui kesepakatan.

yang terjadi dalam fenomena pendidikan usia dini tersebut adalah injeksi pemikiran yang berorientasi equilibrium,. pelajar takut untuk menunjukkan sisi kreatifitasnya. semuanya di usahakan agar sesuai dengan Buku diktat dan apa yang dicontohkan oleh Guru.

dia tidak dapat menarik kesimpulan sendiri dan lebih banyak meniru bahwa yang banyak adalah yang benar. padahal tidak ada yang salah dan benar dalam menggambar. anak dalam usia ini cenderung tidak berani untuk berkreatifitas dan "berbeda" dari lingkungannya. takut gambarnya di cap jelek dan ketakutan mengeluarkan ide ide tersebut tertanam sampai dewasa-tua.


Secara sederhana, Interaksionalisme simbolik. pertukaran/interaksi dengan cara bertukar simbol simbol yang telah memiliki makna juga terjadi pada fenomena ini. 

yang terjadi dalam fenomena pendidikan usia dini tersebut adalah injeksi pemikiran yang berorientasi equilibrium,. pelajar takut untuk menunjukkan sisi kreatifitasnya. semuanya di usahakan agar sesuai dengan Buku diktat dan apa yang dicontohkan oleh Guru.

dia tidak dapat menarik kesimpulan sendiri dan lebih banyak meniru bahwa yang banyak adalah yang benar. padahal tidak ada yang salah dan benar dalam menggambar. anak dalam usia ini cenderung tidak berani untuk berkreatifitas dan "berbeda" dari lingkungannya. takut gambarnya di cap jelek dan ketakutan mengeluarkan ide ide tersebut tertanam sampai dewasa-tua.

Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan ekspektasi orag lain yang menjadi mitra interaksi mereka. 

Anak adalah Subjek dengan guru dan teman temannya sebagai mitra interaksi. expectasi yang muncul ketika menggambar adalah berusaha sama persis dengan apa yang di contohkan oleh guru. pertimbangan ini, membesarkan anak dalam ketakutan keluar dari tempurung. hampir sama dengan bedahan Struktural Fungsional dalam komponen integracy di atas.


Semoga Bermanfaat. Sekian. 
mohon kritik dan sarannya :)


(ZM)

Posted By UnknownJumat, Juni 21, 2013

Kamis, 25 Oktober 2012

Lampuki

Filled under:

Ada perasaan aneh yang terbersit dibenak saya kala membaca judul dari novel pemenang KLA karangan arafat nur. kata lampuki. banyak kampung kampung di Aceh yang menggunakan kata Lam, Cot, Ulee, dll. Lam sendiri berarti di dalam sementara Puki ? nah... saya tidak tahu apa maksud Tn. Arafat Noor menggunakan kata puki, yang menurut bahasa melayu kuno berarti farji atau alat kelamin wanita. 





ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. ‘Mereka bertanya, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu manusia yang bakal membuat kerusakan dan menumpahkan darah sesamanya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Lalu Tuhan pun menjawab, ‘Sesungguhnya Aku lebih mengetahui akan apa yang tidak kamu ketahui.’ ( Albaqarah: 30)


            Membaca Lampuki berarti membaca dua hal. Pertama, perjuangan semu sebuah komplotan yang dipimpin oleh pria berkumis tebal, Ahmadi dan berbagai episode para tokohnya yang unik serta mampu membuat pembaca tertawa getir. Kedua, sejarah Aceh di era Daerah Operasi Militer.            Lagi, karya sastra bersetting Aceh masa silam, sebuah cara lain mengemas luka, luka yang kata Helvy Tiana Rosa belum sepenuhnya selesai, luka sisa kejahatan perang. Lampuki, sebuah novel yang berhasil mempesonakan juri dalam dua ajang bergengsi di dunia sastra yakni pemenang unggulan sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta, 2010 dan pemenang penghargaan sastra KLA (Khatulistiwa Literary Award), 2011 kategori karya sastra berbahasa Indonesia terbaik.            Lampuki adalah nama sebuah kampung di wilayah Pasai, kampung yang lebih mirip wilayah terpencil dan terpuruk  dan dinarasikan sebagai sebuah kampung yang sebetulnya tidak jauh dari Lamlhok, kota itu hampir runtuh, tenggelam dalam perang dan dilanda penjarahan. Sebagian besar bangunanya hangus dan hancur akibat kemarahan penduduk kampung sekeliling, lantaran kota itu menyimpan kebusukan dan memilihara kemaksiatan (hlm.52)            Adalah seorang teungku (guru ngaji) bekerja sebagai kuli bangunan dan sempat terlibat dalam proyek pembangunan kompleks tentara di kampung Lampuki. Fokus cerita bukan pada kehidupan teungku semata tapi ibarat menonton film seri dengan menggunakan narator untuk menuntun pembaca memasuki tiap tiap bab-nya dan berkenalan dengan para tokohnya.  Nah, kisah pun dimulai setelah perumahan itu ditinggalkan penghuninya dan diganti penghuni baru saat perang bergejolak.            Tirai kisah dibuka dengan penuturan Teungku Muhammad si pembawa kisah dalam novel ini. Seluruh narasi diambil dari sudut pandang si teungku oleh Arafat Nur selaku pengarang. Teungku Muhammad adalah pemilik balai pengajian di dekat rumahnya, ia mengajarkan Alqur’an secara sukarela kepada anak-anak sekitar kampung. Suatu malam balai pengajiannya didatangi Ahmadi atau si Kumis Tebal , tokoh sentral  yang juga pemimpin pemberontak di wilayah Sagoe Peurincun. Maksud kedatangannya adalah menyulut gairah kaum muda  Lampuki untuk berperang.            Janji muluk Ahmadi tidak berlangsung sebatas balai pengajian saja, ia mendatangi kedai-kedai kopi dan Pasar Simpang. Ahmadi terus menggaungkan perihal martabat serta kejayaan Aceh di masa datang  bila terbebas dari ‘penjajahan’ orang-orang seberang. Banyak yang tidak peduli dengan Ahmadi, penduduk bahkan pasrah membayar ‘pajak’ untuk keperluan perang daripada masuk keluar hutan bersama komplotan Ahmadi.            Lain Ahmadi lain pula tokoh yang memeriahkan isi novel yang sampulnya di dominasi warna merah ini. Halimah, istri Ahmadi tak kalah hebohnya dalam memerankan pribadi yang bermuka dua. Ia lalu lalang melewati pos jaga sambil mengutip pajak dari rumah ke rumah, tak ada tentara yang curiga bahwa ia sebenarnya istri dari pemberontak.            Ada juga sepotong episode yang dikisahkan guru ngaji persoal penghuni kompleks perumahan di Lampuki yakni si Karim, Pedagang Ganja, tetangga teungku si Syamaun, pemilik ayam namun tak becus mengurus ayam sehingga seringkali kotoran ayam Syamaun menjadi masalah besar bagi teungku jika mengotori balai pengajiannya. Ada banyak humor disini, sulit juga menempatkan kapan pembaca dituntut untuk tertawa, sementara kisah yang diangkat sebenarnya memiriskan hati tentang manusia-manusia yang hilang idealisme. Pengarang piawai melucukan karakter namun sebenarnya menyedihkan.            Sebuah novel tak lengkap rasanya jika tanpa ada kisah cinta, benar kata novelis Fira Basuki, ada tiga hal yang harus ada dalam novel jika hendak laku dipasaran, tragedi, drama dan cinta. Untuk menambah kesan dramatis, pengarang menyematkan kisah cinta terlarang disela-sela gebalau konflik perang. Kisah cinta terlarang antara Jibral si Rupawan, salahsatu murid ngaji teungku dengan istri para pemberontak, Halimah istri Ahmadi dan Hayati istri Puteh.  Pada penceritaan tentang percintaan sepertinya Arafat terjebak dalam godaan untuk menampilkan adegan cerita erotis yang  berseberangan dengan nilai moral walaupun pada dasarnya si pengarang,  saya pikir sudah cukup hati-hati dalam pemilihan kata dan kalimat.            Alahai, membaca Lampuki seperti membaca buku sejarah tapi bukan buku sejarah, membaca kumpulan humor tapi bukan sesungguhnya humor.
Bahasa Kepalan Tangan VS Bahasa NovelTeks sastra tulis Tjahjono Widijanto seorang penyair dan esais asli Ngawi dalam artikelnya yang berjudul Luka Dalam Sastra Indonesia dan Korea, bukan saja merupakan dokumen keindahan bahasa semata, melainkan juga dokumen sejarah yang didalamnya penuh luka sebuah bangsa. Dalam soal luka ini, tulis Tjahjono lagi bahwa peristiwa dalam sejarah “resmi”, oleh sastra tak dianggap sebagai “realitas tunggal” yang benar dan valid, sastra mengolahnya sebagai satu hal yang harus dipertanyakan lagi.   Arafat Nur, begitu menggemparkan dunia sastra nasional umumnya dan sastra Aceh khususnya. Aceh seperti yang kita ketahui pernah jadi wilayah operasi militer. Tentara dikirim untuk menumpas apa-apa saja yang dianggap pemberontak pemerintah pusat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Aceh Merdeka. Tak pelak ini semua menggerahkan para aktivis HAM, walau bagaimanapun tak ada perang yang tak menyebabkan pelanggara HAM. Masa ini terjadi di zaman Presiden Suharto, kemudian di masa Presiden Gus Dur, Aceh tidak lagi menjadi wilayah operasi militer.Lewat novelnya ini, ia berani membeberkan segala hal yang meresahkan, dan segala luka sisa perang dengan penyampaian bernada satir cerdas. Latarbelakang sebagai wartawan Harian Waspada kontributor Aceh, cukup membantu Arafat dalam mengkritisasi konflik Aceh. Sejumlah kritiknya bertabur tiap kali tokoh teungku bernarasi.Terlebih lagi, tidak lebih dari dua tiga penduduk yang tinggal di seputar situ saja yang bersedia hadir mendirikan jemaah di meunasah, lainnya tidak terlalu menggubris seruan menyembah Tuhan. Lalu beberapa penduduk yang memang tidak suka sembahyang, memanfaatkan situasi itu untuk menutupi keengganan dirinya dengan berkata, ‘Tuhan pun tiada ingin menagih hambaNya bersujud secara jamaah di meunasah untuk kemudian kepalanya dilubangi peluru! (hlm. 119).Dalam bab lain:…Karim menyelipkan tiga lembar uang merah ke dalam saku bajuku, uang kertas berwarna merah. Itulah warna yang punya nilai paling tinggi di negeri ini, serupa halnya warna bendera dan darah. Maka, tidak salah bila mereka menyebutkan negeri ini— sambil bernyanyi-nyanyi riang dan bangga--tanah tumpah darah. Memang selamanya negeri ini senang dengan pertumpahan darah. (hlm.178)Carut marut konflik saat perang menular ke segala lini, perasaan yang paling menjulang tinggi di kondisi seperti itu adalah perasaan takut, takut dituduh pemberontak, takut akan Tuhan pun sirna,  takut mati dan lain lain. Terlebih apa yang dilakukan Ahmadi dan komplotannya adalah baik yakni membela tanah airnya, namun disisi lain cara yang ia tempuh untuk mencapai yang baik itu yang dibenci penduduk se-kampungLampuki, bersebab ulahnya yang turun gunung di saat situasi aman dan menyebarkan janji semu akan kemerdekaan sejati yang diperoleh jika bersedia gabung dengan laskarnya, namun pada akhirnya tingkah Ahmadi jualah penyebab munculnya bab Tahun Penuh Bencana dalam novel ini. Hal tersebut tergambar dalam narasi berikut:Mereka yang menggiring kami adalah malaikat-malaikat loreng dengan alat siksa senjata yang menakutkan. Kami saling melihat ritual yang merupakan ganjaran atas kesalahan penyerangan si Kumis Tebal; seorang istri menyaksikan suami  dan anak laki-lakinya dipukuli; seorang ayah melihat anaknya dipukuli; seorang anak perempuan melihat ayahnya dikasari; hingga seorang jiran melihat jirannya sendiri dipukuli (hlm.378)Sampai disini simpulkan sudah, tak selamanya hutang nyawa dibalas dengan nyawa, tak selamanya bahasa kepalan tangan dibalas dengan senjata super canggih. Itulah yang ditulis  Sapardi Djoko Damono salahsatu endorser dan juga juri Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 dalamLampuki, strategi pengarang untuk mengambil jarak emosional dengan masalah politik dan social penting yang diungkapkannya berhasil menyadarkan kita bahwa protes atau komentar social dan politik tidak harus disampaikan dengan bahasa kepalan tangan. So, proteslah dengan cara elegan salahsatunya memakai bahasa novel, semoga pemimpin negeri ini suka baca.            Dalam konteks ini, melanjutkan tulisan Tjahjono Widijanto diawal, teks sastra hadir sebagai upaya manusia (atau sebuah bangsa) kembali pada nilai dasar dan universal kemanusiannya. Sastrawan hadir tentu bukan sebagai sejarawan, tapi pencatat, pemikir dan creator, ia memiliki cara dan kemampuan tersendiri dalam menampilkan sejarah ‘mental’ sebuah bangsa. Dari situ mungkin pelajarn terpenting dari sejarah bisa kita dapatkan. Yah, jika terluka obatilah dengan menulis.            Mungkin untuk ukuran pembaca yang suka novel pop, novel ini tergolong serius, tapi gaya penulisan Arataf Nur, jauh dari kesan serius, ada terselip humor namun tidak juga menghilangkan pesan terdalam yang hendak disampaikan melalui novel.Lampuki sebuah novel a must read,  untuk yang ingin mengenal persoalan manusia dan negeri ini, karakter manusia hipokrit terurai jelas tiap episodenya, sekalipun tetap ada hubungannya dengan episode lain.
Kritik untuk Lampuki            Ya, disini kita masuk zona bebas tapi no alay =DD, jadi gini, klo gak gara-gara lomba, Lampuki mungkin gak akan ku lahap sampai habis. Dalam perjalanan Medan Sibolangit, Sibolangit-Medan, lalu lanjut Medan-Labuhan Batu Selatan, namun karena berangkat via bus malam, jadi gak sempat baca, maka waktu membaca adalah disela-sela perjalanan dari hotel ke Bumper PT. Asam Jawa Torgamba, lalu dari hotel ke PMKS di Cikampak, dan novel pun tamat saat perjalanan dari hotel yang ada di Kota Pinang ke Medan, wuaahh…melelahkan.            Melelahkan memang, benar kata Ayu Utami dalam resensinya tentang Lampuki untuk pembaca awam membaca Lampuki seperti menonton film serial, tiap seri nya punya judul beda dan sekali tamat, namun masih terus berkaitan dengan seri berikutnya. Nah, bagi pembaca awam juga seperti saya ini cukup mengkerutkan kening, belum lagi kata-kata yang dipakai penulis.            Menurutku, kata-kata yang dipakai penulis dalam gaya penceritaannya, adalah kata pasaran, hadeehhh @_@, jujur ni ya puyeng bacanya. Sama seperti pertama kali membaca Saman-nya Ayu Utami, eh Ayu Utami apa Djenar Maesa Ayu ya yang nulis, duh aku lupa, yang jelas, pertama kali dikasih pinjam ma kawan, belum sampai satu bab habis, aku mau mual bacanya, otakku mulai mengkomandokan untuk serempak memutuskan sarafnya sendiri-sendiri. Danger banget baca novel yang menggunakan bahasa yang gak jauh2 dari bagian fisik tertentu dari tubuh manusia baik laki-laki atau perempuan.            Dalam kasus Lampuki, agaknya seorang Arafat Nur menjaga koridor dari apa yang difalsafahkan oleh organisasi kepenulisan tempat ia bernaung, Forum Lingkar Pena—Arafat pernah menjadi pengurus di FLP Lhoksemawe. Hal yang sama juga pernah terjadi pada cerpenis asal Lubuk Linggau, Benny Arnas. Mereka terjebak dalam penceritaan tentang percintaan, hubungan laki-laki dan perempuan. Seringkali bahasa yang digunakan terlalu vulgar, tidak menggunakan bahasa yang sehalus mungkin dan menghindari jebakan penceritaan adegan yang terlalu ‘wah’. Masih hangat dibenak pembaca bagaimana Habiburrahman El-Shirazy dalam Ayat-Ayat Cinta menceritakan malam pertama Fahri dan Aisyah, tak perlu berlama-lama disana karena hanya akan menjadi sia-sia, toh focus cerita bukan pada hal yang ‘begituan’, lalu kenapa penceritaan yang seperti itu menjadi sebuah keharusan ketika menyelipkan bumbu romantisme dalam novel-novel dewasa Indonesia? Jawaban dari pertanyaan ‘kenapa’ saya ini, mohon dijawab memakai hati dan logika novelis Indonesia.            Saya pernah membaca bahwa pembaca yang sering membaca hal-hal yang tidak jauh dari selangkangan, ia akan terus mencanduinya. Membaca tidak sama seperti saat kita menonton. Menonton TV, membuat pemirsa tidak perlu memeras otak untuk membayangkan wajah pelaku di TV, secara semua memang tampak, berdialog, dan bergerak, berbeda jika kita membaca, saat membaca, kita mengerahkan seluruh fungsi otak, untuk membayangkan, merasakan, dan lain sebagainya. Nah, kekuatan imajinasi inilah yang perlu diarahkan, jika bacaan kita bagus maka imajinasi kita terhadap apa yang kita baca ya tidak jauh dari hal-hal dan pemikiran yang baik, hasil dari bacaan yang baik tadi, sebaliknya, jika bacaan kita tentang ‘itu semua’, maka isi otak kita juga tidak jauh beda dari apa yang kita baca. Kita adalah apa yang kita baca.            Maka dari itu, tulislah hal yang bermanfaat, karena akan dibaca banyak orang, dan orang akan merasakan manfaat baik dari apa yang kita tulis. Tentu, komunitas menulis yang kita naungi seharusnya berpengaruh besar terhadap hasil tulisan kita, itu gunanya kita masuk organisasi atau komunitas menulis, supaya terarah saat menulis dan tidak melenceng dari koridor yang disepakati. Bukan berarti saya mendewakan komunitas menulis tempat saya bernaung, tapi sependek pemahaman saya, profesi menulis itu adalah kerja tim, jika kita bersama tim, misi memerangi tulisan yang bisa merusak sistem otak, bisa sama-sama diperangi dan efeknya luas, tapi jika sendiri tanpa ada penyatuan kekuatan, efek baik itu terasa lamban bekerja dan jangkauannya belum tentu luas. Menulislah untuk kebaikan! =))

Posted By UnknownKamis, Oktober 25, 2012

Bilangan Fu > Ayu Utami

Filled under:




Buku yang satu ini termasuk dalam daftar "must have" dalam list perpustakaan pribadi saya, namun sayangnya di Aceh, tidak ada toko buku yang menyediakan novel keren ini, baru pada Pameran buku bertajuk "pesta buku 2012" saya menemukan Bilangan Fu ini terjepit di antara buku buku lain. dengan harga 45.000 saya sudah mendapatkan buku manis ini. rejeki :-D
oke, langsung aja, Setelah lama tidak muncul, penulis Novel laris Saman ini kembali menelorkan sebuah Novel yang mengangkat tema Spiritualisme Kritis. Yang didalamnya terdapat perdebatan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan hal spiritual, seperti mistis, takhayul, sesajen dan juga kehidupan beragama monotheisme.
Jika di rumuskan secara kelompok, ada dua kubu yang ditampilan disini, kubu yang menghargai dan mempercayai takhayul, adat istiadat, sesajen dll, dalam lakonnya di Bilangan Fu dinamakan Parangjati, sementara kubu yang lain yang disebut modern yang tidak lagi mempercayai hal-hal takhyul bernama Yuda
Lantas apa hubungannya dengan Bilangan Fu? Apasih Bilangan Fu itu?
Bilangan Fu adalah bilangan yang menyesaki benak tokoh utamanya yaitu Yuda, seorang pemanjat tebing dan seorang petaruh sejati. Ada tiga tokoh disini; Marja, kekasih Yuda seorang mahasiswi desain dan Parang Jati seorang mahasiswa Geologi ITB semester akhir, penduduk lereng Watugunung yang berjari tangan 12!. Yuda bertemu dengan Parang Jati ketika hendak membeli peralatan memanjat di rumah sahabatnya yang telah ‘pensiun’ sebagai pemanjat karena menikah dan membuka usaha menjual alat-alat untuk panjat tebing.
Yuda sangat rasional, modern, tidak mempercayai takhyul dan membenci Televisi dan membenci kota. dalam hal membenci Sinetron dan Drama Horor, saya merasa mirip Yuda. sedang Parang jati sangat menghargai alam dan mempercayai adanya ‘penunggu’ di setiap ruang di alam raya, dan dia menganggap sesajen adalah seperti kita membayar bea cukai atau pajak dan upeti kepada penguasa, tidak lebih. Dalam pandangan Parang jati, manusia modern sudah demikian congkak dan tidak menghargai alam, sehingga perusakan hutan membabi buta sering kali terjadi oleh manusia yang mengutamakan kepentingan ekonomi diatas kepentingan alam itu sendiri. nah kalau sama parangjati, saya sepakat sama ide kelestarian alamnya, tapi soal ada penunggunya... hmm, give me another question :D
Sesajen atau persembahan pada alam adalah wujud bahwa sebagai manusia kita masih menghargai alam, tidak merusaknya dan menjaga alam tetap lestari. Jadi kepercayaan atau takhayul tentang alam ada ‘penunggunya’ sehingga manusia perlu meminta ijin untuk mengolahnya dan tidak semena-mena terhadap alam adalah sebuah bukti manusia bisa menghormati alam. Sayang hal itu luput dari pemikiran manusia modern yang sering memandang rendah sebuah upacara adat dan sesajen sebagai suatu pemborosan. demikian parangjati berkhotbah.
Dalam petualangan memanjat di Watugunung bersama sahabat barunya Parang Jati-yang penduduk asli lereng Watugunung dekat Pantai laut selatan itulah dia mengalami hal-hal yang selama ini dianggap takhayul sehingga terjadi pergolakan dalam dirinya tentang hal tersebut.
Saat tertidur di Watugunung, dia mengalami hal aneh. Mimpi bertemu penunggu gunung itu yang dia sebut Sebul, dalam gambarannya sebul adalah mahluk berkaki serigala, memiliki payudara, berkelamin ganda yang membisikkan tentang bilangan Fu. Bilangan yang menyerupai obat nyamuk bakar, melingkar keluar bagai labirin yang juga disebut Hu.
Dalam penjabarannya Fu atau Hu, ini adalah bilangan ke 13, dalam hitungan jawa kuno, ada hitungan; ji,ro,lu,pat,mo,nem,tu,wu,nga,luh,las,sin,hu (hal.304). (Ji=siji/1, ro=loro/2, lu=telu/3, pat=papat/4, mo=limo/5, nem=enem/6, tu=pitu/7, wu=wolu/8, nga=sanga/9, luh=sepuluh/10, las=sebelas/11, sin=lusin/12, Hu=13). Angka 13 Yang biasanya di Barat disebut-sebut sebagai angka sial. Sementara dalam kepercayaan China, 13 bisa berarti 1+3 = 4 atau bliangan Tsi angka sial di China. Lalu bagaimana penjelasanya dalam Novel ini tentang Anga ke-13 tersebut? Tentu saja penjelasanya ada dalam Novel terbaru Ayu Utami ini.
Dalam mengungkapkan Spiritualisme Kritis yang menjadi tema besar novel ini, Ayu banyak sekali menghadirkan debat-debat antara tokoh Yuda dan Parang Jati, serta dengan penduduk setempat. Ayu juga banyak sekali menyinggung sejarah Babad Tanah Jawi dalam menyampaikan pendapatnya tentang berbagai adat istiadat yang berhubungan dengan spiritual Jawa seperti kepercayaan tentang Nyai Rara Kidul, pesembahan atau sesajen, upacara Bekakak di Yogyakarta.

Posted By UnknownKamis, Oktober 25, 2012

Rabu, 05 Oktober 2011

Tuhan, Izinkan Aku menjadi Pelacur ( Muhidin M Dahlan )

Filled under:



Ini adalah buku yang paling mengganggu pikiran saya selama berbulan bulan, saya di pinjami buku ini oleh seorang aktifis di salah satu organisasi kemahasiswaan, sebagaai bahan perbandingan untuk bekal mendalami filsafat dan beberapa serpihan ilmu sufistik.
Muhidin M dahlan sendiri, pengarang buku sekaligus juga merupakan aktifis senior dalam organisasi yang saya juga ikut tergabung di dalamnya ketika di hubungi terkait fenomenalnya novel ini, menolak memberikan keterangan.

Sinopsis


Buku ini mengisahkan ulang perjalanan seorang muslimah yang menjadi pelacur. Awalnya, Nidah Kirani, seorang mahasiswi dan aktivis jemaah Islam yang mencita-citakan tegaknya Islam kaffah dalam Daulah Islamiyah Indonesia, mengalami kekecewaan yang dalam. Sebab spiritualitas kawan sepergerakannya ternyata biasa-biasa saja, dan di samping itu dia merasa dibodohi karena tidak tahu program dan arah gerak jemaah. Pemikiran jemaah dinilainya sebagai dogma-dogma yang tak masuk akal. Maka Nidah Kirani memberontak dan lari dari jemaah dan mulai mencoba hidup baru secara bebas. Dia lalu bergaul dengan kehidupan malam, seks, dan narkoba. Lalu menjadi perempuan penganut free-sex yang liar dan akhirnya menjadi pelacur profesional, di bawah seorang germo yang juga dosennya sendiri sekaligus anggota DPRD dari sebuah fraksi yang sering meneriakkan tegaknya Syariat Islam. Semua perilakunya ini dilakukannya karena kekecewaannya yang dalam, di samping untuk memberontak kepada Tuhan yang dianggapnya telah menghancurkan dirinya. Pada akhirnya, dia melakukan perenungan, dan sampailah dia pada suatu kemantapan untuk menjadi seorang pelacur, sebagai upaya untuk memaknai eksistensi dirinya, sekaligus untuk menunjukkan bahwa menjadi pelacur berarti menguasai dan menundukkan laki-laki, bukan dikuasai dan ditundukkan laki-laki seperti halnya dalam sebuah lembaga pernikahan.

Beberapa Catatan Kritis
               
a. Stigma Negatif Terhadap Gerakan Islam

Buku ini menarik untuk dibaca dan menantang. Terutama bagi para aktivis gerakan Islam. Sebab yang dikisahkan adalah perjalanan seorang aktivis gerakan Islam. Tapi, yang lebih penting adalah, apa sebenarnya tujuan penulis buku dengan bukunya ini? Dengan melihat maraknya seruan menerapkan Syariat Islam belakangan ini, maka buku ini dapat dipahami posisinya. Yaitu secara tidak langsung ingin membentuk citra negatif bagi gerakan Islam yang ingin menegakkan Syariat Islam. Caranya adalah mengekspos perilaku oknum mantan anggota gerakan yang justru kontradiksi dengan Syariat Islam itu sendiri, seperti mengkonsumsi narkoba dan seks bebas. Juga dengan mengekspos perilaku bejat oknum anggota DPRD yang konon dari fraksi yang memperjuangkan Syariat Islam. Semua ini bertujuan agar masyarakat tidak mempercayai lagi perjuangan untuk menegakkan Syariat Islam, karena toh perilaku para aktivisnya sangat munafik, bejat, dan amat jauh dari Syariat.
Seharusnya, kita bisa melihat secara dewasa fenomena tersebut. Ide-ide (sebagian) gerakan Islam yang dirasakan sebagai dogma, memang faktual adanya. Tapi itu tentu tidak bisa digeneralisir. Apakah semua gerakan Islam mendogma para aktivisnya? Apakah semua gerakan Islam memperlakukan aktivisnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya tanpa boleh berpikir dan mendiskusikan ide-ide gerakan?
Begitu pula perilaku menyimpang dari Syariat Islam, juga faktual adanya pada sebagian aktivis. Tapi apakah itu berarti Syariat Islam yang salah? Apakah ide Negara Islam yang salah? Apakah Tuhan yang salah? Mengapa kita tidak menyalahkan sistem sosial sekuler yang menciptakan ruang-ruang bagi perliaku liberal yang bejat? Mengapa kita tidak menolehkan perhatian kita pada struktur masyarakat kapitalis sekarang, yang melahirkan ketidakadilan dan ketimpangan, sehingga lahir orang-orang termarjinalkan seperti anak jalanan dan pelacur? Mengapa semua keburukan ini mesti dialamatkan kepada Tuhan? Mengapa?     

b. Menyisipkan Pandangan Kufur

                Hubungan pandangan hidup (filsafat) dan sastra sangatlah erat. Sastra seringkali meruapkan ekspresi dari pandangan hidup atau filsafat yang dianut penulisnya. Wellek dan Waren dalam Theory of Literature (1956:110) mengatakan,”Frequently literature is thought of as a philosophy, as ideas wrapped in form, and it is analyzed to yield leading ideas.”
                Maka, buku karya Muhidin M. Dahlan ini juga dapat dianggap sebagai pengungkapan ideologi atau pandangan-pandangan hidup penulisnya. Sayangnya, bukan ide Islam yang menjadi substansi atau roh dari karyanya, melainkan ide-ide kafir. Misalkan saja, pandangan penulis bahwa agama adalah candu masyarakat, yang menipu manusia dari hakikat kehidupan, benar-benar sejalan dengan pandangan Karl Marx. Perhatikan ungkapan penulis di halaman 236-237 :

“Kuberitahukan kepada kalian semua. Hai semuanya:masyarakat bumi adalah masyarakat pecanduyang sudah sangat jauh lari dari esensi mereka hidup. Mereka bisa bertahan hidup hanya dengan candu. Kulihat mereka sekarang dalam kondisi mabuk. Hidup mereka menjadi stagnan, mandek. Bagaimana tidak, inti hidup sendiri, yang memandu kehidupan mereka, ialah keyakinan tentang Tuhan yang tak pernah jelas dan sesungguhnya rapuh.”

Bandingkan khotbah Muhidin itu dengan ungkapan Karl Marx (w. 1883) :

“Religion is the sigh of the oppressed creature, the hearth of a hearthless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people.” (Agama adalah keluh-kesah dari makhluk tertindas, kalbu dari suatu dunia yang tak berkalbu, dan jiwa dari suatu situasi yang tak berjiwa. Agama adalah candu bagi rakyat).

(Lihat Karl Marx, “Contributin to The Critique of Hegels Philosophy of Right”, dalam On Religion, hal. 41-42)

Jadi, apakah Muhidin M. Dahlan seorang Marxis? Wallahu a’lam. Yang jelas, dalam karyanya bisa ditemukan serat-serat pemberontakan dan pelecehan terhadap agama, sebuah ciri khas Marxisme.
Ide-ide kafir lainnya yang cukup kental dan bisa dirasakan, adalah kebebasan (liberalisme). Dalam arti tidak adanya keterikatan dengan sebuah norma yang baku. Norma agama dianggap sebagai dogma yang MUSTI dihancurkan. Ini juga khas filsafat Barat, khususnya filsafat eksistensialismeyang sangat menuhankan kebebasan (Lihat, “Eksistensialisme: Keberadaan Manusia”, dalam Ide-Ide Besar Sejarah Intelektual Amerika, Suparman dan Malian, 2003, hal. 9). Maka ketika penulis mempropagandakan kebebasan dengan melukiskan Nidah Kirani yang menikmati eksistensi dirinya sebagai pelacur, yang begitu melecehkan pernikahan, yang mempersetankan agama dan Tuhan, semua itu jelas adalah ekspresi dari kebebasan. Yang kufur, liar, dan tidak bertanggung jawab.  
               
c. Bahasa Vulgar
                Jika kita hendak mencari karya sastra dengan bahasa yang vulgar, kasar, buku Muhidin M. Dahlan dapat diambil sebagai sampelnya. Bahkan saking vulgarnya, ada dua halaman dalam buku itu yang disensor dengan tinta hitam, sehingga beberapa kata atau sebaris kalimat tidak bisa dibaca (hal. 102-103).
                Diksi (pilihan kata) yang disajikan terkadang mengesankan, bahwa penulis adalah orang yang tidak punya tata-krama dan tidak berpendidikan. Dengan permohonan maaf, kami sajikan contohnya di halaman 194  :

“”Hubunganku dengannya tak kurang dan tak lebih semata hanya seksnya saja untuk pelampiasan kekosonganku.Lain tidak. Cinta? Taik.
               
Mungkin saja, buku ini bagi orang dewasa hanya sebagai entertainment saja. Tapi bagi orang muda yang sedang mencari jati diri, yang belum matang, pilihan kata penulis buku akan menjadi semacam “ayat suci” yang akan menentukan sikapnya kelak. Maka, kekasaran jiwa, kevulgaran yang telanjang, sikap tak mengenal kehalusan bahasa dan kesantunan kata, akan berpotensi semakin merusak mental bangsa kita (yang sudah rusak ini) untuk jangka panjang. Saya rasa Muhidin M. Dahlan akan turut bertanggung jawab untuk hal ini.
               
d. Menawarkan Kegelapan
                Hal yang paling mendasar yang ditawarkan penulis, adalah kegelapan. Betapa Nidah Kirani digambarkan mengalami kekosongan jiwa dan pikiran setelah melalui petualangannya yang hancur-hancuran (hal. 243). Tidak ada tawaran secercah sinar yang bisa membimbing. Buku ini menawarkan kehampaan, kekosongan, ketiadaan. Nihil.
                Dalam dunia filsafat, kekosongan dan kegelapan adalah ciri khas dari sastra yang beraliran eksitensialisme. Dan itu, sebenarnya bukan lagi pemberontakan terhadap agama, tetapi malah sebuah agama alternatif yang sengaja dibuat oleh para eksistensialis, untuk menjadi pembimbing kehidupan dalam situasi modern yang chaos. McElroy (1972:36) seorang penulis eksistensialis, ketika menggambarkan siapa itu kaum eksistensialis, dia mengatakan,”…a group of thinkers who are attempting to develop an alternative religious discipline as a guide for living in the chaos of modern world.”                                                
                Maka dari itu, tawaran Muhidin M. Dahlan sebenarnya adalah suatu agama alternatif. Dia bikin agama baru. Tuhannya adalah hawa nafsu manusia. Mungkin Muhidin adalah nabinya, yang sedang giat menggembar-gemborkan ajaran yang kafir kepada umat manusia, agar umat manusia bertaklid buta dan mengekor kepadanya menuju kegelapan yang abadi. Mengerikan.

Posted By UnknownRabu, Oktober 05, 2011